Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 November 2015 0 comments

Boy Best Friend Romance Movie

I just finished watch “One Day”, it’s a drama romance old movie with Anne Hathaway and Jim Sturgess on set. Focused on them, well, because it’s pretty much of a romance story of two people. The story takes very simple background, it’s about both : best friend and friend with benefit. So Emma (Anne Hathaway) was a straight, neat, good kind of girl in the movie while Dexter (Jim Sturgess) is like a cool, playful, rich kind of guy. They met at graduation day, introduced by each of their friend which is already in relationship. So at the end of the day, Emma and Dexter decide to spent the night together. It doesn’t work all romantic, instead, Emma feels awkward and almost decide to went back home while Dexter feels pity on her so they ended up having talk. A casual talk between two stranger which now become a friend.




The story goes and goes, Emma lead a life with all the straight-boring way, while Dexter beginning in more risky life but with great benefit in wealth. They keep contact, even though each of them is already had spouse.


This is remind me of another movie which is released more recent. It’s “Love, Rosie”. With different background set, let’s say, It was Rosie (Lily Collin) who had crush upon her boy best friend Alex (Sam Claffin) but she stays calm. Even after graduation day, and finally she finds out that Alex went into medical faculty while she got pregnant with other guy he date on prom and so she can not continue her life through university. They then living separately, still keep in touch, even after Alex finally get married, and also Rosie agree to marry the father of her son.



 

Both are telling story about two people, being best friend even after each of them are already have their own life partner. But the different is, Love Rosie have kind of happy ending because finally after some rough life story, Rosie and Alex met, both are already divorced, and it seems they started to reveal their needs of each other. The movie end. But in One Day, it’s almost the same. But the story still goes where Emma finally got pregnant over Dexter, she’s willing to tell Dexter about this good news when finally she got hit by car. And she died, and Dexter left depressed and all frustrated for several years.

Yes it’s kind of heart aching movie.

Anyway, so if anyone like this type of movie (about bestfriend become boyfriend), both are worth to watch. I haven’t found anything similar. I can’t put “Friend with benefit” or “No String Attached” similar to this kind of movie because this both were really talks about “friend with benefit”, it’s a term to use for those who got friendship along with sexual, but no heart feeling of love between them.
Sabtu, 12 Januari 2013 2 comments

Rumah Dara, Great Indonesian Thriller Movie


I would rate it 5,5 out of 10, including how the movie set has been build. Indonesia, my place, as for me, feels more real than any hollywoods work.

Rumah Dara, atau Macabre for international title, garapan sutradara Kimo StamboelTimo Tjahjanto, sejatinya bukan film thriller yang wah, unpredictable, dan new. Bagi penikmat film-film thriller/psikopat garapan Hollywood maka film Macabre ini termasuk dalam just another thriller movie. Sebagian orang bahkan berkomentar film ini duplikat dari Texas Chainsaw Massacre atau Inside, Frontiers dari segi cerita yang serupa.

Tapi, seriously, memang apa yang sebenarnya diharapkan penikmat film thriller? Sebuah jalan cerita yang baru? Jalan cerita tidak terprediksi? Atau aksi-aksi yang membuat pemirsanya ternganga? Film dengan persyaratan begitu bakal masuk kategori drama-action ketimbang thriller. Tapi, untuk nilai plus, apabila film thriller memenuhi persyaratan tersebut maka akan menambah rating. Sebut saja Final Destination, film ini mempunyai jalan cerita elok dengan menyerahkan peran pembunuhan pada takdir. Dan film ini bertahan hingga serinya yang kelima meski ratingnya mulai menurun karena film ini masih menampilkan adegan-adegan mengejutkan yang tak terduga, membuat pemirsanya menerka-nerka kapan maut tiba, dan tiba-tiba slash! satu aktor mati.

Jadi sejatinya film thriller dinikmati lebih kepada keberadaan adegan-adegan mengejutkan yang harus dilalui para actor untuk menghindari pembunuh, daripada jalan cerita itu sendiri.

Kembali ke Macabre.

Acting para aktornya terbilang bagus. Jalan cerita meskipun monoton, tapi masih terbilang riil. Yang merusak di film ini adalah adegan kehadiran polisi yang terkesan lawak. Uhm, well, lawak sebenarnya tidak masalah, tapi acting para pemeran polisi di sini sangat tidak proporsional, tidak selayaknya seorang polisi bertindak. Selain itu juga ada adegan ledakan yang ditampilkan di sini, dan itu terlihat made up. Tapi saya memang tidak berharap muluk-muluk dari segi efek yang satu ini. Lalu satu hal lain yang agak mengganggu adalah warna darah yang diciptakan, terlalu menyala, padahal saya tahu dengan darah yang diambil langsung dari pembuluh darah melalui jarum suntik saja warnanya tidak secerah cat mobil Ferrari Schumacher. Tapi di film ini, ada beberapa scene yang menunjukkan warna merahnya secerah itu. Penting? Ya, karena itu membuyarkan konsentrasi. Tapi beruntunglah karena kemudian setingan film digelapkan mengingat timeline malam yang dipakai, jadi masalah ini tidak terlalu vital. Dan endingnya… jeez, dulu jaman Scream masih heboh (tahun 90an) ending menggantung dari film thriller adalah wow. Tapi sekarang, film thriller dengan akhir menggantung itu boring! Ada ratusan film thriller yang demikian soalnya. Dan film Rumah Dara ini salah satunya.

Jadi itu semua komentar negatifnya. Dan ya, saya lebih mahir memberi komentar negatif daripada positif sebenarnya. Oke, jadi saya acungi jempol pada film Rumah Dara ini untuk tidak menjual adegan cabul pada pemirsa! Hell yeah, satu-satunya adegan yang mengarah ke sana adalah bagaimana seorang tukang jagal sangat tertarik pada Julie Estelle ketika hendak membunuhnya atau ketertarikan tokoh kelompok protagonist pada tokoh kelompok antagonis dengan latar belakang kamar tidur. Itu saja. Dan tidak ada tontonan tak senonoh yang dijual semenarik adegan-adegan pembunuhannya. Kemudian saya juga menambah acungan jempol untuk peran bayi yang riil. Gila! Dapat darimana bayi sebelia itu yang dibolehkan dishoot di layar kaca? Rahasia sutradara? Fine. Jadi menurut saya, dengan tidak menggunakan manekin bayi yang keliatan boongnya, itu nilai plus film ini. Beberapa efek pembunuhannya juga terlihat riil, seperti ketika menggergaji leher, menghujam dada, tusukan-tusukan, dan semuanya. Ini lah yang membuat film ini bisa saya sejajarkan dengan film Hollywood.

Dan nilai plus lainnya adalah ini dibuat di Indonesia, feels more real karena aktor-aktor dan latar film yang lokal. Jadi 5,5 dalam jajaran film Hollywood menurut saya itu luar biasa. Mudah-mudahan Indonesia bisa membuat film-film yang mementingkan kualitas, daripada harga jual. Karena sebenarnya semua sejalan kok, semakin mahal sebuah film, semakin berkualitas, maka semakin tinggi harga jualnya.
Minggu, 06 Januari 2013 0 comments

Ruby Sparks dan Bagaimana Warna Hidup Tercipta



“....a human being has been created out of ink, paper, and the imagination”. –J.D. Salinger

Sangat menginspirasi, terutama bagi mereka para penulis (karena tokoh utama disini merupakan seorang penulis) atau pun seseorang yang berimajinasi mengenai kemunculan sosok pasangan idaman yang sempurna dan sesuai dengan kemauan penulis itu sendiri. Karena dalam film berdurasi satu setengah jam ini menceritakan bagaimana seorang wanita dengan ajaib tercipta dari imajinasi seorang penulis terkenal. Sang penulis, Calvin, yang jatuh cinta pada wanita hasil ciptaannya, Ruby, juga mampu mengubah karakteristiknya sesuai kehendak Calvin. Ya, semudah itu. Jadi segala tindakan dan sifat Ruby yang tidak disukai Calvin, bisa dihilangkan hanya dengan menuliskan apa yang dia inginkan dari Ruby melalui mesin ketiknya.

Terdengar menyenangkan dan sempurna, hmm? Tapi kenyataannya segala yang terlalu terkendali membawa permasalahan. Calvin, dalam satu scenenya sampai berujar, “I want to be what's making her happy, without making her happy” .

Aku ingin menjadi seseorang yang menjadikannya bahagia, tanpa (dengan sengaja) membuatnya bahagia.

Kalimat yang menurut saya menunjukkan kebingungan mendalam. Calvin hanya menginginkan apa yang dia inginkan, dan ternyata kesemuanya itu ia dapatkan dengan mudah, tidak ada tantangan, tidak ada rintangan. Calvin tidak memberi kebebasan pada Ruby, dan demikian juga Ruby yang sekalipun beberapa kali memberontak namun ia tidak bisa benar-benar memberontak, karena sejatinya ia diciptakan dari imajinasi Calvin. Namun seiring berjalannya ketidakstabilan sifat Ruby yang mengikuti pola pemikiran Calvin, yang membuatnya jengkel sendiri karena merasa Ruby jadi seseorang yang aneh, akhirnya membuat Calvin menulis begini ‘Ruby was just Ruby with or without Calvin’ "Ruby adalah Ruby, dengan atau pun tanpa Calvin". Dan dengan begitu Calvin menemui Ruby apa adanya selayaknya manusia biasa, mempunyai kesenangan sendiri tanpa Calvin, mempunyai kepentingan yang tidak berkaitan dengan Calvin, dan mempunyai kecenderungan berselingkuh dari Calvin.

Ya, klimaks dari film ini terjadi ketika Ruby dipergoki berinteraksi secara intim dengan seorang penyelenggara pesta kerabat Calvin. Mereka bertengkar hebat, sampai pada akhirnya Calvin sengaja membongkar hal yang selama ini ia rahasiakan bahwa dirinya bisa mengubah Ruby sekehendak hatinya, mulai dari bagaimana ia berbicara dengan bahasa prancis, hingga isi kalimat yang diutarakan.

Dan di sini, Calvin benar-benar kecewa karena tidak bisa memanusiakan manusia.

Kira-kira makna film ini benar-benar merujuk pada potongan kalimat di awal tulisan kan? Seorang manusia diciptakan lebih dari sekedar goresan pena, selembar kertas, dan sebuah imajinasi. Manusia hanyalah manusia, ciptaan Tuhan Yang Sempurna, tapi tidak akan mampu menciptakan yang sesempurna ciptaanNya. Karena sekalipun kita sangat mengenal diri kita sendiri, dan apa yang kita inginkan, bukan berarti kita bisa menjalani hidup seperti saat ini apabila kita mendapatkan mukjizat untuk mewujudkan kesemuanya secara instan. Perhatikan, bahwa sejatinya ketidaksempurnaan itu melahirkan kesempurnaan, namun kesempurnaan tidak bisa melahirkan ketidaksempurnaan. 

Jadi, mari kita beranjak dari sekedar pemaknaan film ini pada sekedar sosok pasangan ideal, menuju warna-warni kehidupan yang lebih luas.


Manusia mempunyai mimpi atau keinginan, dan sebenarnya manusia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggapai mimpi atau keinginan itu sendiri ketimbang menikmatinya. Apabila mimpi dapat digapai dengan mudah, dengan instan, lalu apa lagi yang mewarnai hidup? Termasuk juga iman/agama dengan puncak mimpinya adalah surga. Apabila sudah tercapai apa lagi yang mau diperjuangkan? Nah, lihat bagaimana kemudian banyak orang sukses secara materi dan eksistensi kemudian sengaja bunuh diri, atau terjun pada dunia kriminal seperti menjadi pecandu atau melakukan tindakan kejahatan yang konyol. Padahal dari luar mereka terlihat begitu sempurna, dan kita sebagai pemirsa saja mendambakan kehidupan mereka, tapi kemudian kita hanya menggeleng-gelengkan kepala kecewa karena orang-orang tersebut sangat tidak menghargai hidup. Bukan masalah menghargai kehidupan sebenarnya, tapi karena kebosanan, monoton, kehilangan tujuan hidup karena semuanya telah tercapai.

Sebuah penyakit jiwa yang sebenarnya bisa menjangkiti siapapun, terutama mereka yang sedang berjalan menuju kesuksesan.

Jadi apa yang membuat seorang manusia bertahan?

Pertama, iman. Tentu, seseorang yang beriman akan selalu mendapati dirinya tertantang untuk terus memperbaiki diri karena Tuhan telah menerjunkan setan sebagai pengganggu, sebagai rintangan agar manusia tidak bosan untuk terus berusaha memperbaiki iman mereka. Dan kenapa mereka harus berusaha memperbaiki iman? Karena mimpi seorang manusia beragama adalah surga, nirwana, atau apapun balasan Tuhan yang tak tertandingi. Sesuatu yang terdengar fana, fiktif, karena manusia baru bisa merasakannya pada kehidupan setelah mati. Kebenarannya seolah dipertanyakan karena penjabaran yang di luar logika. Sebagian bahkan memilih jadi atheis karena merasa agama adalah hal yang tidak masuk di akal.


Tapi secara psikologi, di sanalah justru titik yang membuat manusia beragama itu tidak mudah menyerahkan hidup. Surga, sesuatu yang bisa dicapai setelah mati yang artinya selama hidup kita hanya mengira-ngira sudah sebaik apakah diri kita, sudah pantaskah Tuhan membalas kita dengan hadiah super luar biasaNya? Dalam Islam sendiri (karena saya beragama Islam), tidak ada nilai absolut untuk poin-poin pahala, seperti : beramal sebesar 1000 rupiah akan mendapatkan satu tiket, puasa senin-kamis akan dapat 100 tiket. Untuk masuk surga paling rendah perlu sejuta tiket, dan surga firdaus (tertinggi) perlu satu milyar tiket. Bersyukurlah, kitab suci umat Islam tidak menuliskannya. Karena itu manusia berlomba-lomba, mengira-ngira, dan tidak pernah berhenti berusaha memperbaiki dirinya karena khawatir bahwa dirinya belum memenuhi persyaratan masuk surga.

Untuk poin pertama ini kesampingkan emosi pribadi seperti kasih sayang Nabi Muhammad atau kecintaan Allah SWT ya, saya mencoba menjelaskan secara universal soalnya ;)

Kedua, masalah. Mereka bosan, hidup mereka menjadi monoton. Logikanya begini, kita tidak akan menemukan kesenangan tanpa kesedihan, kita tidak akan menemukan kebaikan tanpa adanya kebatilan, jadi kita tidak akan menemukan hal positif tanpa adanya hal negatif. Orang-orang dengan kesempurnaan duniawi itu tidak bisa lagi menemukan kebahagiaan karena setiap hari yang ia temukan adalah kebahagiaan. Hidupnya monoton. Perasaan mereka tumpul, tidak bisa lagi merasakan nikmatnya kebahagiaan.

Untuk bisa kembali merasakan kesenangan seperti yang pernah mereka rasakan, maka mereka berbuat sesuatu yang benar-benar menghancurkan hidupnya. Mereka dengan sengaja mencari keburukan untuk membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Karena dari sana kemudian mereka akan perlahan merangkak berjuang kembali mencapai kehidupan nyaman yang pernah dimiliki. Tapi, jangan salah persepsi, kalau sudah sengaja menghancurkan diri begitu, siapa yang bisa jamin kehidupannya bisa kembali seperti sedia kala?

Karena itu, istilah bermimpilah setinggi langit ada benarnya. Kenapa langit? Karena tingginya belum terdefinisi hingga kini. Jadi, teruslah bermimpi dan jangan pernah berhenti. Selain karena pemikiran tersebut bermakna positif secara langsung pada kehidupan manusia, pemikiran itu juga mempertahankan kejiwaan manusia dari keputusasaan dan ketidakbermaknaan hidup.


Menghargai dan toleransi pada keberadaan orang lain termasuk kekurangan dan kelebihannya sebenarnya adalah sebuah bentuk kewajiban, bukannya tindakan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan. Percayalah, kalau bukan karena mereka berbeda dengan kita maka kita tidak akan menjadi seperti diri kita saat ini. Simpelnya begini, semua orang mempunyai sifat yang sama seperti kita. Menyenangkan? Kalau menurut saya sih membosankan. Apa bedanya kita dari orang lain? Apa spesialnya kita dari orang lain? Dan karena naluri manusia adalah menunjukkan eksistensi diri, menyuarakan pada dunia bahwa keberadaan diri mereka di bumi ini bermakna, maka siapa yang jamin kalau usaha membedakan diri itu berujung pada diri kita dengan sifat-sikap negatif?

Maka bersyukurlah dengan masalah yang ada, dan bersyukurlah dengan perbedaan yang tercipta. Karena Tuhan sengaja menurunkan itu semua untuk manusia agar hidup mereka berwarna. Agar manusia tetap memaknai dan menghargai hidupnya.

CMIIW :3
Selasa, 05 Juni 2012 0 comments

I am Legend vs Silent Hill


Ada konsep yang sama dari keduanya. Saya tidak yakin apakah yang satu memang mengcopy yang lain, atau hanya sebuah kebetulan, karena Silent Hill sendiri diputar tahun 2006 dan berbasis pada plot sebuah game yang telah diciptakan jauh sebelumnya, sementara I am Legend baru diputar tahun 2007 tapi berhasil menyabet juara ada Golden Trailer Award ditambah beberapa nominasi dari Award lainnya.


Sebelumnya, mungin beberapa tulisan saya kemudian akan mengandung bocoran cerita (spoiler) dari kedua film tersebut.

Silent Hill yang bergenre horror, mystery, thriller, ternyata lebih banyak memunculkan makhluk-makhluk horror mereka dalam bentuk yang lebih mirip dengan monster ketimbang hantu atau setan. Bersetting di sebuah kota hantu (kota yang tidak ditinggali lagi) bertabur kabut yang dalam cerita terbentuk dari debu abu kebakaran masif di kota tersebut sehingga semakin mendukung suasana horror. Selanjutnya sebagian besar monster-monster yang berdomisili di sana menampakkan diri ketika dunia kegelapan datang. Fokus utama dari film ini berbeda-beda setiap serinya, tapi dari cerita yang difilmkan ini mengkisahkan tentang masa lalu kelam dari seorang anak perempuan yang tinggal di kota tersebut. Saya lupa apakah anak perempuan tersebut berreinkarnasi, atau sekedar dirasuki arwah anak perempuan dari masa lalu kota Silent Hill sehingga tokoh utama yang merupakan ibu angkat dari bocah tersebut akhirnya harus menggeluti sebuah petualangan di kota itu untuk membalaskan dendam anaknya.

Kota Silent Hill yang tampak "rapi" dan tidak ditinggali
Kota New York dalam I am Legend yang hancur dan tidak terrawat
I am Legend lebih berkiblat pada genre Science fiction sebagai akar permasalahan dalam plot film. Virus yang diyakini dapat menyembuhkan kanker, ternyata memiliki komplikasi mengubah manusia tersebut menjadi monster yang sebuas hewan liar. Saya masih belum mengerti apakah hanya kota New York yang telah terjangkit virus sehingga kota tersebut harus dikarantina, atau jangkitan virus itu sudah mendunia. Namun sepenangkapan yang saya pahami, virus tersebut sudah menyebar di seluruh dunia karena di akhir film disebutkan bahwa tokoh utama telah menjadi legenda dalam peradaban umat manusia karena telah mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan obat antivirus sehingga diharapkan manusia yang telah berubah menjadi monster itu dapat sembuh kembali. Latar yang digunakan adalah sebuah kota yang terbengkalai karena seluruh penduduknya telah terinfeksi virus yang mengakibatkan mereka tidak dapat hidup di siang hari, dan membuat para monster jelmaan manusia ini hanya menggunakan instingnya tanpa mampu berpikir selayaknya manusia normal. Mereka sangat buas dan tidak bisa diminta untuk berdiplomasi.

Persamaannya? Well, kebanyakan memang pada bagian latar. Tapi selain itu juga tokoh monster yang digunakan hampir sepenuhnya sama. Bedanya, di I am Legend, para monster benar-benar berbentuk manusia utuh hanya warna kulitnya yang berubah, dan warna matanya, serta perangai dari monster tersebut yang tidak dapat disebut sebagai manusia. Sementara pada Silent Hill, sebenarnya saya sendiri tidak bisa menemukan artikel yang menyebutkan apakah monster-monster yang bermunculan itu merupakan jelmaan penduduk kota yang terbakar, atau merupakan perwujudan hantu yang diciptakan anak kecil untuk membalas dendamnya. Yang jelas, bentuk monster itu sangat mirip dengan bentuk monster di I am Legend. Mereka sama-sama hanya muncul ketika kegelapan datang. Kegelapan yang dimaksud dalam film I am Legend adalah benar-benar kondisi malam dalam siklus harian, sementara kegelapan yang dimaksud dalam Silent Hill lebih mengarah pada keadaan dimana terjadinya kebakaran (sebuah kejadian besar di masa lalu yang mengakibatkan seluruh penduduk kota tersebut tewas). Kegelapan yang datang ini sama-sama ditandai dengan suara. Pada I am Legend, tokoh utama menyetel waktu-waktu tertentu yang mengingatkannya akan datangnya kegelapan di arloji yang selalu ia kenakan, sementara pada Silent Hill, pertanda datangnya kegelapan adalah sirine kebakaran yang berada di luar kendali tokoh utama.

I am Legend Monster : Dark Seeker
First meet with the Darkseeker of I am Legend
Experimented Monster in I am Legend
Second meet with the Silent Hill monster 
Silent Hill monster : The Janitor
Keduanya sama-sama hanya mengangkat satu orang sebagai tokoh utama. Tapi meskipun begitu, kedua film ini tetap menampilkan tokoh sampingan yang sangat membantu sekalipun tewas di suatu adegan film. Pada I am Legend, tokoh yang membantu ini tewas di pertengahan durasi film, sementara pada Silent Hill tokoh itu tewas tepat sebelum klimaks film.

I am Legend bisa disebut sebagai happy ending dibandingkan sad ending. Tapi untuk lebih tepatnya, ending film ini digolongkan sebagai mempunya solusi dari permasalahan cerita. Sementara untuk Silent Hill bisa dikatakan mempunyai sad ending, atau akhir cerita yang tidak mempunyai solusi.

Rating imdb I am Legend mencapai 7.1, sementara rating untuk Silent Hill di imdb hanya 6.5.

Meskipun mempunyai banyak kesamaan, keduanya merupakan film-film yang cukup recommended dari penyuka film bergenre horror, adventure.
Minggu, 21 November 2010 0 comments

STAR TREK as My Second Best Movie


I had watch the STAR TREK movie.
 
And hell yeah, i just had done it in couple minutes ago.

What a crazy-amazing-unbeatable-spectacular movie...

Maybe it's on the second rate of the best movie i ever seen in my list. Star Trek, after the first one, Down Fall.

Why do i choose Down Fall as the first? Because it's based on the true story, it's a historical, and i love the movie/story which take on that type.

But in the other side, even i also do love about outer space, but it was so rare for me to enjoy the story (novel) or the movie based on it. Such as star wars, i don't know whether because it's had a very long series (1-6) or just had a boring story that most of the story focused on political more than on action, or i'm just too young to watch the first series (SW4) so i decide not to follow the next series, or anything else.

But this movie, STAR TREK, really enjoy me. The story, even if it hard to understand at very first, but lately, it's became clear, scene by scene. The story was very complicated, including the life of the future, and the past, and the changing history.

Seems like i still do not understand whole the story goes, but i do get the point of the movie. Loyalty, Logic, Humanity, Emotion, Differences, are the main matters of the story. But i'm still thinking about the end of the story. I mean, there must be two life which already goes in the world. The first, is the future which full of unmistaken and unbreakable world. And the second was the world which was under the shadow and terror of Romulan (future). So, there will be no relation between the future and the past because, the old Spock not vanished at the end. It means, in the future of the past story, Kirk, Spock and the all the people there will face the same chaos as it was.

Oh i was so confused until i can not understand my own confuseness... lol

Anyway, although it's really really complicated in the story relating future and past, the rest of the movie was A PERFECT! I love it! :D

Here is the main character 


This is the U.S.S.Enterprise starship :


And this is the Narada starship, the Romulan from the future

 
;